Elitnesia.id|Bireuen — Banjir hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Bireuen meninggalkan dampak serius bagi masyarakat pesisir. Dari 609 gampong yang tersebar di wilayah ini, Gampong Mon Keulayu, Kecamatan Gandapura, menjadi salah satu daerah terdampak terparah, dengan kerusakan masif pada tambak dan permukiman warga.
Gampong Mon Keulayu yang berada di pesisir timur Bireuen dan berbatasan langsung dengan muara Sungai Peusangan—yang mengalir dari Kecamatan Kutablang—mengalami krisis lingkungan dan ekonomi secara bersamaan. Banjir besar mengubah kawasan tambak warga menjadi hamparan lumpur, memutus pematang, serta mencampurkan air asin dan endapan tanah, sehingga fungsi tambak hilang total.
Keuchik Gampong Mon Keulayu, Ns. Agustiar, S.Kep, mengatakan bahwa gampong yang dipimpinnya terdiri dari empat dusun, yakni Dusun Panglima, Arafah, Kuta Batee, dan Leubok Dalam, dengan total luas tambak mencapai sekitar 150 hektare.
“Sebanyak 15 unit rumah warga rusak berat, sementara puluhan rumah lainnya mengalami kerusakan ringan dan terendam lumpur setebal 1 hingga 40 sentimeter. Di area tambak, ketebalan lumpur bervariasi dari 1 sentimeter hingga mencapai 2 meter,” ujar Agustiar kepada media.
Selain merusak permukiman dan tambak, banjir juga mengancam infrastruktur sosial dan keagamaan. Satu unit meunasah yang berada di dekat bantaran Sungai Peusangan kini terancam longsor, memperlihatkan tingginya kerentanan fasilitas publik di kawasan pesisir tersebut.
Keuchik juga mengungkapkan bahwa banjir membawa ratusan bongkahan kayu besar yang menumpuk di muara sungai Dusun Panglima. Berdasarkan pantauan media pada Senin (5/1/2026), sekitar 75 persen kayu tersebut telah hilang, sebagian terbawa arus dan sebagian lainnya diambil warga dengan cara dipotong menggunakan senso dan diangkut menggunakan perahu.
Duka masyarakat semakin bertambah setelah kuburan umum gampong sempat tergenang air. Di lokasi tersebut terdapat makam tiga anak dan cucu dari Babib Bugak (Habib Husein Al Habsyi), yakni Habib Ahmad bin Habib Husein Al Habsyi, Habib Abdullah bin Habib Husein Al Habsyi, dan Habib Husein bin Habib Abdurrahman Al Habsyi. Kondisi ini menyentuh sisi emosional warga karena ancaman bencana tidak hanya merusak harta dan mata pencaharian, tetapi juga nilai sejarah dan spiritual masyarakat.
Mengakhiri keterangannya, Agustiar berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan segera mengambil langkah konkret untuk membantu pemulihan gampong.
“Kami sangat berharap adanya bantuan alat berat seperti ekskavator untuk membersihkan lumpur di tambak, memperbaiki tanggul, jalan gampong, serta rumah-rumah warga yang hingga kini belum bisa dibersihkan secara manual,” katanya.
Bagi warga Mon Keulayu, bantuan tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya menghidupkan kembali tambak sebagai sumber utama penghidupan. Tanpa intervensi cepat dan nyata, gampong pesisir ini dikhawatirkan terjebak dalam krisis berkepanjangan, melahirkan kemiskinan baru akibat bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi.
Sumber : Amat Asah Parang
Redaksi/editor : Ipul pedank laut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar