Elitnesia.id|Bireuen ,— Pesan tentang makna musibah, introspeksi diri, serta pentingnya memperkuat pendidikan agama dalam keluarga menjadi sorotan utama khutbah Jumat di Masjid Jamik Badrussalam, Gampong Cot Gapu, Kemukiman Gelanggang Raya, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Jumat (28/8/2026).
Khutbah disampaikan Tgk Rasyidin Affan dari Cot Bada Tunong yang sekaligus bertindak sebagai imam salat Jumat. Ia juga dikenal sebagai pendiri Balai Pengajian Mistahulqulub Al-Munawarah. Sementara Imam Masjid Jamik Badrussalam adalah Syik Doktor Tgk Ryusdi Usman Abdullah.
Mengawali khutbahnya, Tgk Rasyidin mengangkat tema “Di Balik Musibah Pasti Ada Hikmahnya”. Ia mengingatkan jamaah agar tidak hanya melihat musibah dari sisi kesedihan, tetapi menjadikannya momentum untuk kembali bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Allah sangat menyayangi hamba-Nya yang diuji. Karena itu, jangan hanya bertanya mengapa musibah datang, tetapi tanyakan kepada diri sendiri apa yang harus kita perbaiki setelah musibah itu terjadi,” pesan Tgk Rasyidin di hadapan jamaah.
Ia kemudian mengingatkan hadis Rasulullah SAW:
“أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ...”
Artinya: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling dekat derajatnya dengan mereka, kemudian yang berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya...”
Menurutnya, sejarah para nabi dan rasul menunjukkan bahwa orang-orang pilihan Allah pun tidak luput dari ujian. Karena itu, ujian bukan selalu tanda seseorang jauh dari Allah, tetapi dapat menjadi sarana meningkatkan keimanan, menghapus kesalahan, dan mengangkat derajat.
Aceh dan rentetan ujian sejarah
Dalam khutbah tersebut, Tgk Rasyidin juga menyinggung panjangnya sejarah ujian yang dihadapi masyarakat Aceh, mulai dari masa penjajahan, konflik, bencana alam hingga berbagai persoalan sosial.
Ia mengingatkan bahwa Aceh pernah mengalami gempa besar dan tsunami yang meninggalkan luka mendalam. Namun dari tragedi tersebut pula lahir kesadaran bersama untuk mengakhiri konflik dan membangun perdamaian Aceh melalui proses perdamaian Helsinki.
“Allah mengajarkan manusia melalui berbagai peristiwa. Tsunami meninggalkan duka yang luar biasa, tetapi dari balik musibah itu juga lahir momentum besar menuju perdamaian Aceh yang kita rasakan sampai hari ini,” ujarnya.
Khatib kemudian mengingatkan jamaah bahwa Al-Qur'an telah memberikan banyak gambaran mengenai berbagai bentuk ujian dan azab yang menimpa umat terdahulu. Allah berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَيَاتًا أَوْ نَهَارًا مَاذَا يَسْتَعْجِلُ مِنْهُ الْمُجْرِمُونَ
Artinya: “Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, jika siksaan Allah datang kepadamu pada malam hari atau siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu meminta disegerakan juga?”
(QS. Yunus: 50)
Ayat tersebut, kata dia, mengingatkan manusia bahwa tidak seorang pun mengetahui kapan ujian atau musibah datang. Karena itu, kesiapan yang paling penting bukan hanya kesiapan menghadapi bencana secara fisik, tetapi juga kesiapan iman.
“Musibah jangan hanya dilihat sebagai bencana, tetapi juga sebagai peringatan”
Tgk Rasyidin juga mengutip firman Allah SWT:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Artinya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syura: 30)
Menurutnya, ayat tersebut harus menjadi bahan introspeksi, bukan alasan untuk menghakimi orang yang sedang tertimpa musibah.
Ia menegaskan, manusia tidak boleh dengan mudah menyimpulkan bahwa setiap korban bencana pasti lebih banyak melakukan dosa dibandingkan orang lain. Sebab, ujian Allah memiliki bentuk dan hikmah yang berbeda-beda.
“Kalau kemaksiatan dan kezaliman selalu langsung dibalas dengan musibah, lalu mengapa ada tempat yang terlihat aman sementara kemungkaran juga terjadi? Jawabannya, kita tidak mengetahui seluruh ketetapan Allah. Ada yang diberi peringatan, ada yang diuji, ada yang ditangguhkan. Karena itu tugas kita adalah memperbaiki diri, bukan menghakimi orang lain,” katanya.
“Air, angin, tanah dan api berada dalam kekuasaan Allah”
Dalam khutbahnya, Tgk Rasyidin menyebut berbagai unsur alam—air, angin, tanah dan api—sebagai bagian dari ciptaan Allah yang dapat menjadi sarana ujian bagi manusia.
Ia juga mengingatkan kisah pasukan bergajah yang dihancurkan melalui burung Ababil sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Fil.
Namun ia menekankan bahwa manusia tidak boleh merasa mampu mengendalikan seluruh kekuatan alam.
“Dalam sekejap, dalam siklep-siklap, Allah mampu mengubah keadaan. Karena itu jangan pernah merasa kita kuat. Manusia lemah, Allah Mahakuasa,” ujarnya.
Ia mengajak jamaah menjadikan berbagai bencana dan ujian yang terjadi sebagai momentum memperkuat doa, kepedulian sosial, menjaga lingkungan, memperbaiki perilaku serta meningkatkan ketakwaan.
Peringatan keras untuk para orang tua
Bagian paling menyentuh dalam khutbah tersebut terjadi ketika Tgk Rasyidin mengingatkan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan agama anak-anak.
Ia mengutip firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ...
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Tgk Rasyidin menyampaikan kritik sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, banyak orang tua sangat serius memikirkan agar anak-anaknya sukses dalam pendidikan umum, memiliki pekerjaan bagus dan kehidupan ekonomi yang mapan. Namun, pendidikan agama terkadang justru dikesampingkan.
“Jangan hanya bangga melihat anak sukses secara duniawi, tetapi ketika orang tua sakit, stroke, lumpuh, bahkan sudah tidak berdaya, anak-anak justru sibuk dengan kehidupannya sendiri. Di mana anak-anak yang dahulu kita perjuangkan pendidikannya?” tegasnya.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai “nafsi-nafsi”, masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri.
“Jangankan di akhirat nanti kita mengenal istilah nafsi-nafsi, di dunia pun sudah mulai terlihat. Ketika anak masih kecil, kita ajarkan berbagai hal untuk mengejar kesuksesan dunia. Tetapi apakah kita sudah mengajaknya ke masjid, belajar Al-Qur'an dan memahami agama?” katanya.
Khutbah ditutup dengan ajakan kembali kepada Allah
Menjelang masuk ke rukun khutbah Jumat, Tgk Rasyidin kembali mengajak jamaah untuk tidak menunggu musibah datang baru mengingat Allah.
Ia menegaskan bahwa kehidupan dunia merupakan tempat ujian. Karena itu, setiap ujian harus dihadapi dengan sabar, doa, ikhtiar dan introspeksi.
“Jangan tunggu Allah memberikan peringatan yang lebih besar baru kita berubah. Jangan tunggu kehilangan orang tua baru kita sadar pentingnya berbakti. Jangan tunggu musibah baru kita kembali ke masjid,” pesannya.
Ia mengajak masyarakat Aceh mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah, konflik, tsunami, gempa, banjir dan berbagai ujian lainnya.
“Aceh sudah terlalu banyak belajar dari musibah. Sekarang pertanyaannya, sudahkah kita mengambil hikmahnya? Jangan sampai musibah datang bertubi-tubi, tetapi hati kita tetap tidak tersentuh. Kembalilah kepada Allah sebelum kita dipaksa kembali kepada-Nya,” pungkas Tgk Rasyidin.
Reporter : Muhammad Idris

Tidak ada komentar:
Posting Komentar