Elitnesia.id|Opini,- Banjir besar yang menerjang Aceh pada November 2025 telah berlalu. Air yang meluap dari hulu membawa lumpur, kayu, puing-puing rumah, bahkan merenggut begitu banyak kisah yang tak sempat diselamatkan. Namun, di antara sisa-sisa bencana itu, ada sebuah pemandangan sederhana yang menyimpan makna mendalam.
Di tepian Jembatan Bailey Kutablang—jalur vital yang setiap hari menghubungkan arus perdagangan menuju Medan—tergeletak sehelai selop. Beberapa meter dari sana, ditemukan selop satunya lagi. Keduanya tidak lagi berdampingan.
Tak seorang pun mengetahui siapa pemiliknya.
Tak ada nama yang tertulis.
Tak ada kisah yang dapat dipastikan.
Bisa jadi selop itu milik seorang ibu yang setiap pagi berangkat membawa hasil kebun untuk dijual demi biaya sekolah anak-anaknya. Bisa jadi milik seorang ayah yang mencari nafkah dengan mengantar penumpang dari satu kota ke kota lain. Atau mungkin milik seorang anak muda yang sedang mengejar impian, sebelum banjir mengubah semuanya dalam hitungan jam.
Selop yang tertinggal itu menjadi saksi bisu bahwa di balik setiap bencana selalu ada jejak kehidupan yang tak pernah tercatat dalam laporan resmi. Ada harapan yang terlepas, ada impian yang hanyut, dan ada kenangan yang hanya bisa dikenang oleh pemiliknya.
Hari ini, Jembatan Bailey Kutablang kembali dipenuhi lalu lalang kendaraan. Truk-truk bermuatan hasil bumi, mobil keluarga, angkutan umum, dan para pedagang kembali melintasi jalur yang menjadi urat nadi perekonomian Aceh itu. Kehidupan perlahan pulih, roda ekonomi kembali berputar.
Namun, selop tak sepasang itu mengingatkan kita bahwa pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali jembatan atau memperbaiki jalan. Pemulihan juga berarti mengembalikan harapan, menguatkan mereka yang kehilangan, dan memastikan tak seorang pun berjalan sendiri setelah bencana.
Barangkali suatu hari nanti, pemilik selop itu telah menemukan jalan hidupnya kembali. Atau mungkin tidak pernah kembali lagi. Kita tak akan pernah tahu.
Yang pasti, benda sederhana itu mengajarkan satu hal: manusia boleh kehilangan banyak hal, tetapi harapan selalu menemukan cara untuk tumbuh kembali.
Sebab selama masih ada harapan, selalu ada alasan untuk bangkit. Meski langkah pernah terlepas, perjalanan tidak harus berakhir. Bahkan, kadang semuanya dimulai kembali hanya dengan sepasang selop yang baru.
Penulis : Muhammad Idris (Amat Asah Parang)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar