• Jelajahi

    Aplikasi (1) Artis (3) Covid 19 (1) Daerah (572) Hukum (96) Internasional (191) Kampus (58) Lifestyle (16) Nasional (361) Politik (91)
    Copyright © elitnesia.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Haji Jamaluddin Ajak Jamaah Masjid Agung Sultan Jeumpa Rawat Kerukunan dan Perdamaian Aceh

    15 Agustus 2026, 09:22 WIB Last Updated 2026-08-15T02:22:22Z

     


    Elitnesia.id|Bireuen ,– Semangat merawat kerukunan dan perdamaian Aceh kembali terlihat di lingkungan Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Sabtu pagi (15/8/2026). Usai menunaikan salat Subuh dan mengikuti pengajian, puluhan jamaah melanjutkan kebersamaan dalam suasana santai melalui sarapan pagi bersama di salah satu warung kopi di sekitar masjid.


    Kebersamaan tersebut turut diprakarsai H. Jamaluddin atau yang akrab disapa Haji Jamal, yang mengajak para jamaah untuk terus menjaga silaturahmi, kekompakan dan kerukunan sesama umat.


    Hadir dalam kegiatan itu Imum Syik Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Tgk. Saifuddin Muhammad, yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Bireuen, para imam rawatib, muazin, bilal masjid, guru-guru pengajian serta puluhan jamaah Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen.




    Kebersamaan tersebut diawali dengan pengajian ba’da Subuh. Biasanya, pengajian Subuh Sabtu dibimbing oleh Abon Muhammad Cot Tarum. Namun karena beliau berhalangan hadir, pengajian pada pagi itu langsung dipimpin oleh Abi Saifuddin Muhammad.


    Pengajian tidak hanya menjadi ruang untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga menjadi momentum memperkuat hubungan antarsesama jamaah. Seusai pengajian, Haji Jamal kemudian mengajak jamaah untuk sarapan bersama sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi dalam suasana sederhana dan penuh keakraban.


    Haji Jamal: Kerukunan Dimulai dari Kebersamaan


    Dalam suasana sarapan pagi bersama para Tgk, haji dan jamaah lainnya, Haji Jamal yang didampingi H. Salahuddin menyampaikan rasa syukur karena masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama para ulama, guru pengajian, imam, muazin dan jamaah Masjid Agung Sultan Jeumpa.


    Menurutnya, kerukunan tidak selalu harus dibangun melalui forum resmi dan pertemuan besar. Kebersamaan sederhana seperti salat berjamaah, mengikuti pengajian, duduk bersama dan menikmati sarapan pun dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan.


    “Kalau kita sering duduk bersama, saling menyapa dan saling mendengar, insyaallah hati menjadi dekat. Dari kebersamaan seperti inilah kerukunan dapat dirawat,” ujar Haji Jamal dalam suasana silaturahmi tersebut.


    Ia menilai masjid bukan hanya tempat melaksanakan ibadah, tetapi juga memiliki peran penting sebagai ruang membangun persaudaraan, memperkuat kepedulian sosial dan menjaga ketenangan masyarakat.


    Menurutnya, masyarakat Aceh memiliki pengalaman sejarah panjang dalam menghadapi konflik. Karena itu, perdamaian yang telah diraih tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau sudah selesai untuk selamanya.


    Perdamaian harus terus dirawat dari generasi ke generasi.


    Pulang dari Afrika Selatan, Kembali Merawat Silaturahmi


    Kebersamaan itu juga menjadi momentum bagi Haji Jamal setelah kembali dari Afrika Selatan, Johannesburg. Ia menyampaikan bahwa kepulangannya ke Bireuen turut menjadi kesempatan untuk kembali berkumpul bersama masyarakat dan ikut meramaikan momentum peringatan 21 tahun MoU Helsinki, yang diperingati pada 15 Agustus 2026.


    Bagi Haji Jamal, peringatan 21 tahun perdamaian Aceh bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk kembali mengingat perjalanan panjang Aceh, sekaligus memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga perdamaian.


    Ia mengajak masyarakat Aceh untuk tidak lagi mempertajam perbedaan, tetapi memperbesar ruang persaudaraan.


    “Mari kita rawat damai dengan berpikir bersama, bergandengan tangan dan membangun Aceh lebih baik. Jangan kita wariskan konflik kepada generasi berikutnya. Yang harus kita wariskan adalah kedamaian, persaudaraan dan semangat membangun Aceh.”


    Damai Bukan Sekadar Tidak Ada Konflik


    Haji Jamal berpandangan, perdamaian yang sesungguhnya bukan hanya keadaan ketika senjata tidak lagi digunakan atau konflik bersenjata telah berakhir. Perdamaian harus terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk dalam hubungan antarwarga, hubungan antara ulama dan masyarakat, serta dalam kehidupan sosial dan keagamaan.


    Menurutnya, masjid memiliki posisi strategis dalam membangun budaya damai tersebut.


    “Damai itu harus hadir di hati, di rumah, di masjid, di warung kopi, di lingkungan masyarakat dan dalam cara kita berbicara satu sama lain. Kalau hati kita sudah berdamai, insyaallah kita akan lebih mudah bergandengan tangan membangun Aceh,” katanya.


    Ia juga mengajak generasi muda agar tidak hanya mengenang sejarah konflik Aceh, tetapi memahami nilai penting perdamaian yang lahir setelah perjalanan panjang dan penuh pengorbanan.


    Dari Masjid untuk Aceh yang Lebih Damai


    Kebersamaan jamaah Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen pada pagi itu menjadi gambaran sederhana bahwa merawat perdamaian dapat dimulai dari lingkungan terdekat.


    Dari salat berjamaah, pengajian, silaturahmi hingga sarapan bersama, semuanya dapat menjadi ruang memperkuat persaudaraan.


    Haji Jamal berharap tradisi kebersamaan tersebut terus tumbuh di tengah masyarakat.


    Ia menegaskan, pembangunan Aceh membutuhkan suasana yang aman, damai dan penuh kebersamaan. Perbedaan pilihan, pandangan maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh.


    “Aceh sudah terlalu banyak belajar dari masa lalu. Sekarang saatnya kita melihat masa depan. Mari kita rawat MoU Helsinki, kita jaga kerukunan, kita hormati para ulama dan tokoh masyarakat, serta bergandengan tangan membangun Aceh yang lebih maju, damai dan sejahtera.”


    Sarapan pagi bersama itu pun berlangsung penuh keakraban. Para jamaah, imam, muazin, bilal dan guru pengajian tampak larut dalam suasana persaudaraan, menjadikan Masjid Agung Sultan Jeumpa bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai salah satu ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dalam semangat silaturahmi, kerukunan dan perdamaian Aceh.


    Reporter : Muhammad Idris 

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini