• Jelajahi

    Aplikasi (1) Artis (3) Covid 19 (1) Daerah (572) Hukum (96) Internasional (191) Kampus (58) Lifestyle (16) Nasional (361) Politik (91)
    Copyright © elitnesia.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    HRD Peduli Penyintas Banjir Bireuen, Poltekpel Malahayati Hadir Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Menguatkan

    12 Agustus 2026, 18:25 WIB Last Updated 2026-08-12T13:19:25Z
    Anggota Komisi V DPR RI H. Ruslan M. Daud (HRD) membuka Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) Berdampak Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh di Meuligoe Residen Cot Gapu, Bireuen, Rabu (12/8/2026).


    Elitnesia.id|Bireuen ,– Kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana kembali ditunjukkan di Kabupaten Bireuen. Di tengah proses pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang pernah menghantam sejumlah wilayah Aceh, perhatian terhadap para penyintas tidak berhenti pada bantuan material, tetapi mulai diarahkan pada penguatan pengetahuan, kesiapsiagaan dan kemampuan menghadapi bencana.


    Hal itu terlihat dalam Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) Berdampak Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh yang berlangsung di Meuligoe Residen Cot Gapu, Kabupaten Bireuen, Rabu (12/8/2026).


    Kegiatan yang menyasar ratusan masyarakat, khususnya warga pesisir dan penyintas bencana, tersebut dibuka langsung oleh Anggota Komisi V DPR RI H. Ruslan M. Daud, S.E., M.A.P., yang akrab disapa HRD.


    Kehadiran HRD dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari perhatian terhadap masyarakat Bireuen yang pernah merasakan langsung dampak bencana. Bagi masyarakat, pemulihan tidak hanya membutuhkan bantuan ketika bencana terjadi, tetapi juga pengetahuan agar mereka lebih siap menghadapi kemungkinan bencana berikutnya.


    HRD: Penyintas Harus Dibekali, Bukan Hanya Dibantu


    Dalam sambutannya, HRD menekankan pentingnya edukasi kebencanaan bagi masyarakat. Pengetahuan praktis mengenai apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi dinilai menjadi bagian penting dalam melindungi keselamatan warga.


    “Warga jadi tahu langkah apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. Harapan kita bersama, bencana banjir maupun lainnya tidak terjadi lagi di Bireuen maupun Aceh secara umum,” ujar HRD sebagaimana dikutip dalam pemberitaan kegiatan tersebut.


    Pesan tersebut memperlihatkan bahwa perhatian kepada penyintas bencana tidak semata-mata berbicara mengenai bantuan sesaat. Masyarakat perlu dibangun kembali kepercayaan dirinya, diperkuat kapasitasnya dan dibekali kemampuan untuk melakukan penyelamatan ketika situasi darurat kembali terjadi.


    Bagi Bireuen, perhatian itu memiliki makna tersendiri. Sejumlah masyarakat di wilayah pesisir dan kawasan terdampak bencana masih membutuhkan penguatan setelah melewati pengalaman bencana hidrometeorologi.


    Karena itu, kehadiran HRD bersama Politeknik Pelayaran Malahayati dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendekatan pemulihan yang lebih berkelanjutan.


    H. Ruslan M. Daud (HRD) bersama jajaran Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh dan peserta Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) Berdampak berfoto bersama di Kabupaten Bireuen, Rabu (12/8/2026).


    Poltekpel Malahayati Bawa Ilmu Keselamatan ke Tengah Masyarakat


    Direktur Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh, Ir. Andi Fiardi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.


    Menurutnya, edukasi kebencanaan penting diberikan kepada masyarakat agar warga mampu menghadapi kondisi darurat dengan lebih tenang dan terukur.


    “Kami memberikan edukasi untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana, agar tidak panik dan tetap tenang,” ungkap Andi.


    Poltekpel Malahayati melihat pengetahuan mengenai keselamatan tidak hanya penting bagi dunia pelayaran. Masyarakat yang hidup di wilayah rawan bencana juga membutuhkan kemampuan dasar mengenai keselamatan, evakuasi dan mitigasi.


    Pendekatan tersebut membuat kegiatan pengabdian masyarakat tidak berhenti pada seremoni. Ilmu yang selama ini menjadi bagian dari pendidikan vokasi pelayaran dibawa langsung ke tengah masyarakat yang membutuhkan.


    6.400 Warga di Delapan Kabupaten/Kota Jadi Sasaran


    Ketua Panitia sekaligus Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pelayaran Malahayati, Ir. Dedi Kurniawan, menjelaskan bahwa program KPM Berdampak dilaksanakan secara masif di delapan kabupaten/kota di Aceh.


    Total sasaran mencapai 6.400 warga terdampak bencana, yang tersebar di Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Bener Meriah hingga Aceh Tengah.


    Di setiap kabupaten/kota, sekitar 800 peserta dari gampong-gampong terdampak bencana diikutsertakan dalam edukasi selama satu hari.


    “Fokus utama kami adalah mengedukasi masyarakat terkait mitigasi bencana hidrometeorologi bersama para pemateri, sekaligus menyosialisasi peran institusi Politeknik Pelayaran Malahayati di tengah masyarakat,” kata Dedi.


    Bireuen Dapat Perhatian Khusus


    Khusus di Kabupaten Bireuen, kepedulian terhadap penyintas tidak berhenti pada edukasi kebencanaan.


    Politeknik Pelayaran Malahayati juga menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada 400 murid TK dan SD kelas 1 di Bireuen.


    Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana menyentuh banyak sisi kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan anak-anak.


    Bencana tidak boleh membuat anak-anak kehilangan kesempatan untuk terus belajar dan menatap masa depan.


    Di sinilah makna KPM Berdampak menjadi semakin kuat: perguruan tinggi hadir membawa ilmu, kepedulian dan bantuan sekaligus membangun optimisme masyarakat.


    Dari Bireuen untuk Aceh yang Lebih Siaga


    Kegiatan di Meuligoe Residen Cot Gapu menjadi gambaran bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan kolaborasi banyak pihak.


    Legislatif, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat dan berbagai unsur lainnya memiliki ruang untuk mengambil peran masing-masing.


    Bagi HRD, perhatian terhadap penyintas banjir Bireuen menjadi bagian dari tanggung jawab moral untuk terus mendengar dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat.


    Sementara bagi Poltekpel Malahayati, pengabdian tersebut menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya berdiri sebagai pusat pendidikan, tetapi juga dapat turun langsung menjawab persoalan masyarakat.


    Bencana mungkin meninggalkan luka, tetapi pengetahuan, kepedulian dan kebersamaan dapat menjadi jalan untuk bangkit.


    Dari Bireuen, pesan itu kembali ditegaskan: penyintas tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Mereka harus diperkuat, dibekali dan didampingi agar lebih tangguh menghadapi masa depan.


    Reporter : Muhammad Idris (Amat Asah Parang)

    Editor : Ipul pedank laut 

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini