Elitnesia.id|Bireuen ,– Sebuah potongan sejarah perjalanan aktivis mahasiswa Aceh kembali mencuat ke permukaan. Sebuah kliping koran lama tentang kerusuhan pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) IAIN Ar-Raniry kembali dibagikan sejumlah rekan seperjuangan di media sosial pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Di balik kliping berjudul “Pemilihan Presma IAIN Rusuh, Kotak Suara Dibakar, 10 Mahasiswa Diperiksa Polisi”, tersimpan kisah perjalanan Muhammad Idris, yang kala itu lebih dikenal dengan nama panggilan Fadel.
Bagi Fadel, foto dan berita lama tersebut bukan sekadar dokumentasi. Itu merupakan bagian dari perjalanan masa muda ketika idealisme, persahabatan dan dinamika gerakan mahasiswa mempertemukan dirinya dengan sebuah proses hukum yang kemudian menjadi salah satu episode penting dalam kehidupannya.
Dari Dinamika Pemilihan Kampus hingga Polresta Banda Aceh
Peristiwa tersebut terjadi dalam suasana pemilihan Presiden Mahasiswa IAIN Ar-Raniry yang saat itu berlangsung panas. Berdasarkan kliping koran yang kembali beredar, sejumlah mahasiswa diamankan aparat setelah terjadi kericuhan dalam proses pemilihan dan pembakaran kotak suara.
Dalam kenangan Fadel, sekitar 12 mahasiswa ketika itu diangkut oleh aparat Polsek Syiah Kuala. Empat orang di antaranya kemudian menjalani penahanan sementara.
Fadel yang sebelumnya berada di luar kemudian datang ke Poltabes Banda Aceh bersama seorang pengacara, Jhonson Panjaitan, SH., M.Hum.
Tujuannya saat itu adalah membantu rekan-rekannya yang sedang ditahan.
Namun, situasi justru berubah.
Menurut penuturan Fadel, ketika berada di hadapan penyidik, ia diperlihatkan sebuah foto yang disebut memperlihatkan dirinya membawa kotak suara. Dari pemeriksaan tersebut, Fadel kemudian ikut ditahan bersama empat rekannya.
“Awalnya saya datang untuk membantu teman-teman yang ditahan. Tetapi keadaan justru berbalik setelah saya diperlihatkan foto tersebut,” kenangnya.
Saat itu, menurut Fadel, persoalan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan dinamika internal pemilihan mahasiswa di lingkungan kampus. Namun proses hukum yang berlangsung kemudian memakan waktu cukup panjang, hingga sekitar dua setengah bulan, sebelum akhirnya perkara tersebut berujung pada putusan bebas, sebagaimana yang dikenangnya.
Lima Sahabat, Lima Jalan Kehidupan
Waktu kemudian membawa Fadel dan empat sahabatnya menempuh jalan kehidupan masing-masing.
Husaini Meureudu kini mengabdikan diri sebagai guru di Pidie Jaya.
Feriyadi, SH berkiprah di bidang hukum dan kehumasan pada perusahaan yang bergerak di sektor eksploitasi batu bara di Aceh Barat Daya.
Sahuddun telah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang doktor dan kini menjadi guru di Sekolah Luar Biasa di Abdya.
Sementara Saufuddin Guree memilih jalan dakwah dan kini menjalankan aktivitas sebagai dai di kawasan perbatasan Aceh-Sumatera.
Sedangkan Muhammad Idris alias Fadel menempuh perjalanan panjang di dunia pemberdayaan masyarakat, kemanusiaan dan jurnalistik.
Bagi Fadel, pengalaman masa lalu itu bukan sekadar cerita tentang penahanan dan persidangan. Di dalamnya terdapat persahabatan, idealisme, solidaritas dan keberanian anak muda dalam menjalani masa yang penuh dinamika.
Terima Kasih kepada Para Pembela
Fadel tidak melupakan orang-orang yang memberikan bantuan ketika dirinya dan rekan-rekannya menghadapi proses hukum.
Ia secara khusus mengenang almarhum Sulaiman Siragih bersama rekan-rekan advokatnya, yang disebutnya intens memberikan pembelaan selama proses hukum berlangsung.
Menurutnya, kehadiran para pembela ketika itu menjadi bagian penting dalam melewati masa yang tidak mudah.
Fadel juga mengingat Jhonson Panjaitan, SH., M.Hum, yang datang bersamanya ke Poltabes Banda Aceh dengan tujuan membantu rekan-rekannya yang sedang ditahan.
“Terima kasih kepada para pengacara yang telah mendampingi dan memberikan pembelaan. Mereka hadir ketika kami berada dalam situasi yang sangat sulit,” ujar Fadel mengenang masa tersebut.
“Jeritan Mahasiswa” dari Balik Tahanan
Satu nama lain yang tidak pernah dilupakan Fadel adalah H. Yusmadi Yusuf, yang ketika itu menjadi koresponden Serambi Indonesia.
Fadel mengenang bagaimana Yusmadi turut merekam suara mahasiswa pascarusuh pemilihan PEMA melalui pemberitaan media.
Tulisan mengenai keresahan dan jeritan mahasiswa dari balik tahanan menjadi bagian dari dokumentasi pers yang hingga kini masih dikenang.
Bagi Fadel, media saat itu tidak hanya berfungsi menyampaikan peristiwa, tetapi juga menjadi jembatan agar suara mahasiswa tetap terdengar di tengah situasi yang penuh tekanan.
Dari Aktivis Kampus ke Dunia Kemanusiaan
Setelah melewati fase sebagai aktivis mahasiswa, perjalanan Fadel kemudian memasuki babak baru.
Pascatsunami Aceh, ia terlibat dalam sejumlah kegiatan bersama lembaga swadaya masyarakat dan organisasi internasional.
Di antara lembaga yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya adalah USAID Prioritas, Australian Indonesia Partnership (AusAID) serta Flora & Fauna International asal Inggris.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan masyarakat dan kerja-kerja pemberdayaan di lapangan.
Dari dunia gerakan mahasiswa, ruang perjuangannya kemudian bergeser ke masyarakat—mendampingi, membantu dan terlibat dalam berbagai program pembangunan serta kemanusiaan.
Mendapat Nama “Amad Asah Parang” di Bali
Pada 2011, perjalanan Fadel kembali membawanya ke Bali.
Ia diundang mengikuti kegiatan Internet Governance Forum (IGF) di Hotel Nusa Dua, Bali. Dalam kenangannya, ketika itu ia menjadi satu-satunya peserta dari Aceh yang mengikuti kegiatan tersebut.
Dari momentum tersebut kemudian muncul nama panggilan “Amad Asah Parang”, yang selanjutnya dikenal dalam perjalanan sosialnya.
Nama itu kemudian menjadi bagian dari identitas sosial Fadel di luar nama resminya sebagai Muhammad Idris.
Kini Mengabdi di Gampong
Setelah melewati berbagai fase kehidupan, Muhammad Idris kini menetap di Bireuen.
Ia menjalankan aktivitas sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) Kecamatan Gandapura, mendampingi pemerintah gampong dalam berbagai proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, ia tetap menjalankan aktivitas jurnalistik sebagai koresponden Elitnesia.id.
Perjalanan tersebut memperlihatkan perubahan ruang pengabdian yang cukup panjang: dari aktivis mahasiswa, berhadapan dengan proses hukum, kemudian masuk ke dunia kemanusiaan, mengikuti forum internasional, hingga akhirnya bekerja langsung mendampingi masyarakat di tingkat gampong.
Ketika Foto Lama Kembali Berbicara
Puluhan tahun telah berlalu sejak peristiwa pemilihan Presma IAIN Ar-Raniry tersebut.
Namun pada Sabtu, 8 Agustus 2026, foto dan kliping lama itu kembali beredar di media sosial.
Sejumlah rekan seperjuangan yang pernah melewati masa tersebut kembali membagikannya. Bukan semata untuk membuka kembali persoalan lama, melainkan untuk mengenang perjalanan sebuah generasi mahasiswa yang pernah berada dalam satu perjuangan.
Mereka yang dahulu duduk bersama sebagai mahasiswa kini telah menempuh jalan masing-masing: menjadi guru, doktor, praktisi hukum, dai, pekerja kemanusiaan, pendamping masyarakat hingga jurnalis.
Sejarah yang Tidak Hilang
Bagi Fadel, waktu boleh mengubah kehidupan, tetapi sejarah tidak harus dihapus.
Pengalaman berada di tengah dinamika kampus, menjalani pemeriksaan, melewati masa tahanan, menghadapi proses persidangan hingga akhirnya memperoleh putusan bebas menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk dirinya.
Kini, ia tidak lagi berada di ruang-ruang konflik pemilihan kampus.
Ia berada di tengah masyarakat, menjalankan tugas sebagai pendamping desa sekaligus tetap menulis dan mengabarkan berbagai peristiwa melalui kerja jurnalistik.
Dari Poltabes Banda Aceh menuju gampong-gampong di Kecamatan Gandapura, jejak Fadel telah berubah dari aktivisme menjadi pengabdian.
Muhammad Idris alias Fadel, yang kemudian dikenal pula dengan nama Amad Asah Parang, melihat perjalanan panjang tersebut sebagai rangkaian pengalaman yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.
“Waktu telah berlalu. Kami semua sudah menempuh jalan masing-masing. Ada yang menjadi guru, ada yang menekuni hukum, ada yang menjadi doktor, ada yang berdakwah. Tetapi persahabatan dan sejarah perjuangan itu tetap menjadi kenangan,” kenangnya.
Dan kini, ketika sebuah kliping koran lama kembali muncul di media sosial, masa lalu itu seolah kembali mengetuk ingatan.
Bukan untuk menghidupkan kembali konflik, melainkan untuk mengingat bahwa setiap generasi memiliki sejarah perjuangannya sendiri—dan setiap perjalanan, betapapun beratnya, dapat menjadi bekal untuk mengabdi pada masyarakat di kemudian hari.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar