• Jelajahi

    Aplikasi (1) Artis (3) Covid 19 (1) Daerah (555) Hukum (88) Internasional (191) Kampus (58) Lifestyle (16) Nasional (354) Politik (74)
    Copyright © elitnesia.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Pascabanjir Hidrometeorologi, Gampong Paya Gajah Butuh Pompanisasi dan Normalisasi Anak Sungai demi Bangkitkan Ketahanan Pangan

    18 Januari 2026, 12:43 WIB Last Updated 2026-01-18T05:43:23Z

     


    Elitnesia.id|Aceh Timur — Pascabanjir hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh Timur, kondisi persawahan di Gampong Paya Gajah, Kecamatan Peureulak Barat, mengalami penurunan signifikan. Lahan sawah seluas 110 hektare yang selama ini menjadi tumpuan utama mata pencaharian warga kini tidak lagi berfungsi optimal akibat kerusakan sarana pengairan, khususnya mesin DAP (pompanisasi).


    Keuchik Paya Gajah, Azhar (48) pada hari Minggu 18/01/2026 disawah Gampong Setempat, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap keberlangsungan ekonomi dan pangan warganya. Ia menjelaskan bahwa sekitar 75 persen warga Paya Gajah menggantungkan hidup pada sektor pertanian sawah, sementara sisanya bekerja sebagai peternak, pekebun, pedagang, dan ASN.

    “Pertanian sawah adalah tulang punggung ekonomi gampong kami. Jika sawah tidak bisa digarap, maka dampaknya bukan hanya pada pendapatan warga, tetapi juga pada ketersediaan pangan,” ujar Azhar, yang baru dua bulan dilantik sebagai keuchik.



    Sebelum banjir, persawahan Paya Gajah mampu digarap dua kali panen dalam setahun, dengan sistem air tadah hujan serta didukung mesin pompa air. Dalam satu kali panen, hasil produksi padi mencapai sekitar 500 ton. Peningkatan produksi tersebut juga tidak terlepas dari dukungan Brigade Kementerian Pertanian, berupa bantuan traktor, rotary, dan combine harvester, yang secara nyata mendorong produktivitas petani.

    Namun, pascabencana banjir, sebagian besar alat bantuan tersebut membutuhkan perbaikan. Kondisi terparah dialami oleh mesin DAP atau pompanisasi, yang rusak parah sehingga tidak di pergunakan lagi untuk mengalirkan air ke lahan sawah.


    Selain kerusakan mesin, Azhar juga menyoroti kondisi anak sungai yang selama ini menjadi jalur pengairan sawah. Anak sungai tersebut membutuhkan normalisasi sepanjang ±2,5 kilometer, khususnya pada jalur yang menghubungkan Dusun Mulia dan Dusun Jeumpa. Sementara wilayah Dusun Jambo Bujang dan Seumatang Mamplam lebih difungsikan untuk perkebunan dan perikanan.

    “Untuk bisa bangkit, kami sangat membutuhkan mesin pompanisasi/DAP serta alat berat untuk normalisasi sungai kecil. Ini bukan semata untuk Paya Gajah, tetapi juga sebagai kontribusi nyata kami dalam mendukung ketahanan pangan nasional, sebagaimana cita-cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat sektor pangan,” tegasnya.

    Menurutnya, pemulihan sektor persawahan pascabencana harus menjadi prioritas bersama, karena sawah bukan hanya sumber ekonomi lokal, tetapi juga bagian penting dari rantai pangan nasional. Tanpa dukungan sarana air dan infrastruktur yang memadai, target swasembada dan ketahanan pangan akan sulit terwujud.


    Warga Gampong Paya Gajah pun berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun donor lain yang tidak mengikat, agar sektor pertanian sawah dapat kembali pulih, petani bangkit, dan produksi pangan kembali stabil.


    “Petani kami siap bekerja dan berproduksi. Yang kami butuhkan hanyalah dukungan alat dan sarana agar sawah kembali mengalirkan harapan,” tutup Azhar dengan penuh harap

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini