Judul:
![]() |
| Ketua HMI Bireuen, T. Mirza Syaputra. |
Elitnesia.id|Bireuen – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bireuen mengecam keras tindakan kekerasan berupa penyiraman terhadap seorang aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Peristiwa tersebut dinilai sebagai bentuk teror terhadap gerakan masyarakat sipil yang selama ini konsisten memperjuangkan nilai keadilan, kemanusiaan, serta penegakan hak asasi manusia.
Ketua HMI Bireuen, T. Mirza Syaputra, kepada awak media, Senin (16/3/2026), menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap aktivis kemanusiaan merupakan ancaman serius bagi kehidupan demokrasi di Indonesia.
Menurutnya, serangan terhadap aktivis sipil tidak hanya menyasar individu semata, tetapi juga menjadi upaya untuk membungkam suara kritis yang selama ini berperan dalam mengawal jalannya negara hukum dan perlindungan terhadap korban pelanggaran HAM.
“Peristiwa ini mencerminkan adanya upaya sistematis untuk menebar rasa takut terhadap para pejuang kemanusiaan. Aktivis yang bekerja mengadvokasi korban kekerasan dan pelanggaran HAM justru menjadi target intimidasi. Hal ini tidak boleh dibiarkan dalam negara yang mengaku menjunjung tinggi supremasi hukum,” ujar Mirza.
Ia menambahkan, negara memiliki kewajiban konstitusional untuk menjamin keamanan setiap warga negara, termasuk para aktivis yang bekerja di sektor advokasi hak asasi manusia. Oleh karena itu, aparat penegak hukum diminta bertindak cepat, transparan, dan profesional dalam mengungkap pelaku maupun dalang di balik peristiwa tersebut.
“Hukum tidak boleh tunduk pada kepentingan apa pun. Aparat penegak hukum harus mengusut tuntas kasus ini tanpa tebang pilih. Jika tidak, maka kepercayaan publik terhadap komitmen negara dalam melindungi demokrasi dan hak asasi manusia akan semakin tergerus,” tegasnya.
Lebih lanjut, HMI menilai ruang demokrasi yang sehat hanya dapat terwujud apabila negara mampu menjamin kebebasan sipil dan memberikan perlindungan kepada para pembela HAM dari segala bentuk ancaman maupun kekerasan.
Dalam konteks tersebut, tindakan represif terhadap aktivis sipil dinilai sebagai kemunduran serius bagi proses konsolidasi demokrasi di Indonesia.
Sebagai organisasi kader yang lahir dari tradisi intelektual dan perjuangan moral, HMI menyatakan solidaritas penuh terhadap para aktivis kemanusiaan serta seluruh elemen masyarakat sipil yang terus berjuang menegakkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
“HMI menegaskan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak boleh dipatahkan oleh teror dan kekerasan. Negara harus hadir secara tegas, memastikan keadilan ditegakkan, serta menjamin agar tindakan serupa tidak kembali terulang di masa mendatang,” pungkasnya.
Redaksi : Ipul pedank laut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar