Elitnesia.id|Bireuen, — Ratusan petani di Kecamatan Gandapura sempat berada di titik kritis akibat rusaknya saluran irigasi Leung Paya Gurugoh yang mengalami pendangkalan parah pascabanjir. Kondisi tersebut membuat aliran air tidak berjalan normal dan mengancam sekitar 350 hektare lahan persawahan di sembilan desa dalam wilayah Kemukiman Buket Rata dan Buket Antara.
Saluran irigasi sepanjang kurang lebih 6 kilometer itu nyaris tidak berfungsi, sementara masa tanam terus berjalan. Situasi ini menempatkan petani dalam ancaman serius gagal panen jika tidak segera dilakukan penanganan.
Keuchik Gampong Tanjong Bungong, Afwan, mengakui bahwa kondisi di lapangan saat itu sudah sangat genting. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Bupati Bireuen atas dinamika yang sempat terjadi, khususnya terkait permintaan penggunaan alat berat pribadi.
“Atas nama kami, kami menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak Bupati. Saat itu kami sempat meminta bantuan alat berat pribadi, namun setelah ditinjau di lapangan, memang belum siap sehingga membutuhkan waktu hingga hampir dua minggu untuk penanganan,” ujar Afwan.
Ia menegaskan, keterlambatan sedikit saja dalam penanganan irigasi dapat berujung pada kerugian besar bagi masyarakat petani.
“Kalau terlambat sedikit saja, sekitar 350 hektare sawah bisa gagal panen. Ini menyangkut penghidupan masyarakat di sembilan desa,” tegasnya.
Afwan juga mengakui bahwa bantuan dan intervensi yang dilakukan Bupati Bireuen menjadi faktor utama dalam menyelamatkan lahan pertanian dari ancaman gagal panen. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap petani di tengah kondisi darurat.
“Kami sangat berterima kasih. Bantuan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ini menyelamatkan hasil panen dan ekonomi petani,” tambahnya.
Saat ini, kondisi irigasi Leung Paya Gurugog mulai berangsur normal dan aliran air kembali mengairi persawahan warga. Masyarakat berharap ke depan perhatian terhadap infrastruktur pertanian dapat terus ditingkatkan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa irigasi merupakan infrastruktur vital yang menentukan keberlangsungan sektor pertanian, serta membutuhkan respons cepat agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Redaksi : Ipul pedank laut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar