Elitnesia.id|Bireuen,– Peringatan Hari Hutan Indonesia, Jumat (7/8/2026), menjadi momentum penting untuk kembali mengingatkan seluruh elemen masyarakat bahwa menjaga hutan bukan hanya persoalan kelestarian alam, tetapi juga bagian dari upaya menjaga sumber air, tanah, keanekaragaman hayati dan ketahanan lingkungan.
Pesan tersebut turut terlihat melalui poster ucapan Litbang Bappeda Kabupaten Bireuen yang terpasang pada akun WhatsApp salah seorang pekerja Bappeda Kabupaten Bireuen pada Jumat (7/8/2026). Poster tersebut mengangkat tema “Hutan Lestari, Masa Depan Terjaga, Kehidupan Sejahtera” serta mengajak masyarakat menjaga dan melestarikan hutan sebagai paru-paru dunia dan sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Momentum ini dinilai semakin relevan bagi Aceh, khususnya Kabupaten Bireuen, yang masih berada dalam fase pemulihan setelah bencana hidrometeorologi. Kerusakan lingkungan, perubahan tutupan lahan, sedimentasi sungai dan meningkatnya risiko erosi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama dalam perencanaan pembangunan ke depan.
Data dalam Rencana Kerja Pemerintah Kabupaten (RKPK) Bireuen 2026 mencatat kawasan hutan di Kabupaten Bireuen sekitar 69.345 hektare atau 42,027 persen dari total tutupan/penggunaan lahan yang tercatat dalam dokumen tersebut.
Karena itu, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur yang rusak. Aspek ekologis juga perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan, termasuk perlindungan kawasan hutan, daerah aliran sungai, sempadan sungai, sumber mata air dan kawasan yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Hutan yang terjaga dapat membantu mempertahankan fungsi tata air dan mengurangi tekanan terhadap ekosistem ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Namun, pengelolaan risiko banjir tentu membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari tata ruang, kondisi daerah aliran sungai, infrastruktur pengendali banjir hingga kesiapsiagaan masyarakat.
Melalui peringatan Hari Hutan Indonesia, pesan yang disampaikan Litbang Bappeda Bireuen tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan.
Apalagi, Bappeda memiliki peran strategis dalam penelitian, pengembangan dan inovasi sebagai dasar perencanaan pembangunan daerah. Semangat tersebut juga tercermin dalam pesan pada poster: penelitian untuk menyediakan data, pengembangan untuk meningkatkan kualitas pembangunan, serta inovasi untuk mendorong kemajuan Bireuen yang berkelanjutan.
Pascabanjir, Jangan Hanya Pulihkan yang Rusak
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan ke depan harus semakin memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Pascabanjir, perhatian terhadap hutan dan lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Dibutuhkan penguatan data lingkungan, pemantauan perubahan tutupan lahan, rehabilitasi kawasan kritis, perlindungan sumber air serta edukasi masyarakat agar upaya pemulihan benar-benar memberikan dampak jangka panjang.
Hari Hutan Indonesia 2026 hendaknya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang: hutan bukan sekadar kawasan hijau, tetapi bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama.
Sebab ketika hutan lestari, air lebih terjaga, tanah terlindungi, keanekaragaman hayati tetap hidup, dan masyarakat memiliki lingkungan yang lebih aman serta berkelanjutan.
“Hutan Lestari, Masa Depan Terjaga, Kehidupan Sejahtera.”
Pesan peringatan Hari Hutan Indonesia pada 7 Agustus juga menekankan pentingnya hutan sebagai penyangga kehidupan dan warisan bagi generasi mendatang.
Reporter : Muhammad Idris ( Amat Asah Parang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar