![]() |
| Rizki Kausar, selaku ASLAP (Asisten Lapangan). (Ist). |
Elitnesia.id|Bireuen,— Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak cukup hanya mengejar aspek penyaluran makanan kepada peserta didik. Kualitas bahan baku, proses pengolahan, keamanan pangan hingga makanan diterima anak-anak harus menjadi perhatian utama.
Hal tersebut disampaikan Rizki Kausar, selaku ASLAP (Asisten Lapangan) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kepada media, Jumat (11/9/2026).
Rizki mengatakan, keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki peran penting dalam menjaga kualitas dan standar pelaksanaan MBG. Menurutnya, setiap tahapan harus berjalan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) agar makanan yang diterima peserta didik tetap aman, bergizi dan berkualitas.
“Yang paling utama adalah bagaimana kualitas makanan tetap terjaga. Mulai dari bahan baku, proses memasak, pengemasan sampai makanan diterima oleh anak-anak harus benar-benar diperhatikan,” kata Rizki Kausar kepada media.
Sebagai ASLAP atau Asisten Lapangan, Rizki menilai pengawasan di lapangan menjadi bagian penting untuk memastikan pelaksanaan MBG tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga sesuai dengan ketentuan dan standar yang telah ditetapkan.
Menurut dia, SPPG tidak sekadar berfungsi sebagai tempat produksi makanan. SPPG juga memiliki peran dalam memastikan perencanaan menu, pengadaan bahan baku, proses produksi, pengemasan hingga pendistribusian berjalan dengan baik.
Karena itu, penerapan SOP secara konsisten dinilai menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Setiap tahapan dalam penyediaan makanan harus memiliki standar dan pengawasan yang jelas untuk meminimalkan potensi persoalan, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan kualitas pangan.
Rizki juga menanggapi wacana pelaksanaan MBG melalui kantin sekolah. Menurut dia, gagasan tersebut tidak harus ditolak, tetapi penerapannya membutuhkan kajian yang matang sebelum diberlakukan secara luas.
“Kantin sekolah tentu bisa menjadi bagian dari inovasi. Tetapi harus dilihat dulu kesiapan SDM, fasilitas, standar pengolahan makanan, penyimpanan bahan, kebersihan sampai sistem pengawasannya. Jangan sampai karena ingin mempermudah pelaksanaan, justru standar yang sudah berjalan menjadi berkurang,” ujarnya.
Menurut Rizki, pengelolaan makanan untuk program berskala besar membutuhkan sistem yang terukur. Apalagi makanan tersebut diperuntukkan bagi anak-anak sehingga faktor keamanan pangan harus ditempatkan sebagai prioritas.
Jika kantin sekolah nantinya dilibatkan dalam pelaksanaan MBG, kata dia, diperlukan mekanisme pengawasan yang jelas serta pelatihan bagi pengelola. Selain itu, standar menu dan kandungan gizi harus tetap mengacu pada ketentuan program.
“Anak-anak adalah penerima manfaat utama. Jadi jangan sampai perubahan pola pelaksanaan membuat kualitas makanan berbeda-beda antara satu sekolah dan sekolah lainnya. Standarnya harus tetap sama,” kata Rizki.
Selain persoalan pengolahan, Rizki menyoroti pentingnya ketersediaan bahan baku yang berkualitas. Menurutnya, keterlibatan petani, peternak, nelayan, pedagang ikan, pelaku usaha serta penyedia bahan pangan lokal merupakan bagian penting dalam keberlangsungan MBG.
Rantai pasok yang baik akan membantu memastikan bahan makanan tersedia dalam kondisi layak, segar dan sesuai kebutuhan. Pada saat yang sama, sistem tersebut juga dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat lokal.
“Kalau rantai pasoknya kuat, bukan hanya anak-anak yang mendapatkan manfaat dari MBG. Petani, peternak, nelayan, pedagang ikan dan pelaku usaha lokal juga bisa ikut merasakan dampak ekonominya,” ujarnya.
Rizki mengatakan, persoalan bahan baku tidak bisa dipandang sebelah mata. Kualitas bahan yang diterima akan sangat menentukan kualitas makanan yang dihasilkan.
Karena itu, setiap pihak yang terlibat dalam rantai penyediaan bahan pangan diharapkan memahami bahwa produk tersebut pada akhirnya akan dikonsumsi oleh anak-anak.
Sebagai ASLAP MBG, Rizki Kausar mengajak seluruh pihak yang terlibat untuk tidak hanya melihat program tersebut sebagai pekerjaan, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama terhadap generasi penerus.
Menurutnya, makanan yang disiapkan melalui program MBG dikonsumsi oleh anak-anak. Karena itu, setiap pihak harus memiliki kesadaran bahwa kualitas makanan berkaitan langsung dengan kesehatan dan tumbuh kembang peserta didik.
“Ini bukan sekadar makanan yang kita produksi dan distribusikan. Ini untuk anak-anak kita. Karena itu, kita harus bekerja dengan penuh tanggung jawab dan hati-hati. Jangan mengurangi kualitas hanya karena mengejar kemudahan atau efisiensi,” katanya.
Ia berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG. Setiap inovasi, menurut Rizki, tetap harus ditempatkan dalam kerangka menjaga tujuan utama program.
Ia menegaskan, keberhasilan MBG pada akhirnya bukan hanya diukur dari berapa banyak makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari sejauh mana makanan tersebut memenuhi standar gizi, aman dikonsumsi dan benar-benar memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak.
“Yang kita harapkan sederhana, anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, bergizi dan aman. Kalau itu bisa dipertahankan, maka tujuan besar MBG untuk membangun generasi yang sehat dan cerdas bisa tercapai,” ujar Rizki Kausar, ASLAP (Asisten Lapangan) MBG.
Redaksi : Ipul pedank laut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar