Elitnesia.id|Aceh Timur — Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, Balai Pengajian Dayah Isyrafi Darussa’adah, Gampong Seuneubok Peunteut, Kecamatan Peudawa, Aceh Timur, menggelar berbagai perlombaan keagamaan yang berlangsung semarak dan bernuansa religius.
Kegiatan yang diikuti sekitar 300 santri itu berlangsung selama sepekan, digelar pada sore hingga malam hari, dan mencapai puncaknya pada Sabtu malam (7/2/2026) sebagai malam penentuan para santri terbaik di dayah tersebut.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Dewan Juri, Tgk Muhammad Mizam (23), mengatakan, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kreativitas, keberanian, serta kecakapan santriwan dan santriwati dalam bidang pendidikan agama, khususnya penguasaan Al-Qur’an dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Perlombaan ini menjadi sarana melatih mental, memperdalam ilmu agama, serta membentuk pribadi santri yang berakhlak Qur’ani dalam menyambut bulan penuh berkah, Ramadhan 1447 Hijriah,” ujarnya.
Menurut Mizam, cabang lomba disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta. Adapun perlombaan yang digelar meliputi tilawatil Qur’an, tartil Qur’an, makharijul huruf, pidato Bahasa Aceh, membaca ayat-ayat pendek untuk tingkat kanak-kanak, syarhil Qur’an untuk santri anak-anak dan remaja, muraja’ah (mengaji rutin) bagi remaja, cerdas cermat agama untuk anak-anak dan remaja putra-putri, azan tingkat remaja, serta pidato Bahasa Indonesia.
Untuk menjaga objektivitas penilaian, panitia menghadirkan tujuh dewan juri yang terdiri dari para teungku dan guru dayah dari berbagai daerah, antara lain dari Kecamatan Peudawa, Idi Cut, Nurussalam, Peureulak Barat, serta dayah-dayah ternama seperti Dayah Nurul Ulum Bagok (Kecamatan Nurussalam) dan Dayah Kasih Sayang (Kecamatan Idi Cut), Aceh Timur.
Hadiah berupa trofi dan piagam penghargaan yang bersumber dari sumbangan para orang tua santri akan diserahkan kepada para pemenang pada malam penutupan kegiatan.
Sementara itu, Pendiri Dayah Isyrafi Darussa’adah, Ummi Mainunah (60), mengatakan bahwa lembaga pendidikan agama tersebut telah berdiri sejak 2002 dan memiliki izin pendirian yang lengkap. Dayah yang terletak di pinggir Jalan Nasional Medan–Banda Aceh itu kini membina ratusan santri dari berbagai kecamatan, mulai dari tingkat kanak-kanak hingga SLTA.
“Sebagian santri diantar orang tua, sebagian lainnya datang mandiri, bahkan ada yang menetap dan bermalam di dayah,” kata Ummi.
Ia menjelaskan, para santri mempelajari Al-Qur’an dengan berbagai metode serta kitab-kitab seperti Bajuri, Matan Taqrib, dan kitab fikih lainnya. Saat ini terdapat 15 guru pengajar yang mengabdikan diri sebagai dewan guru, meski belum menerima honor tetap.
Dari sisi fasilitas, dayah tersebut memiliki empat balai ruang belajar, satu tempat wudhu dan toilet, serta satu bangunan yang masih dalam proses pengerjaan untuk keperluan penunjang. Selain itu, terdapat satu unit kios kecil di depan balai pengajian yang menjadi sumber pendukung kebutuhan santri sehari-hari.
Ummi berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun para dermawan, berupa bantuan kitab, penambahan ruang belajar, atau sarana pengajian lainnya.
“Bantuan tersebut akan menjadi penyemangat bagi para guru dan santri dalam menanamkan pendidikan agama kepada generasi bangsa,” ujarnya.
Di dayah tersebut juga terdapat belasan santri yatim dari Kecamatan Peudawa dan Idi yang mendapatkan pembinaan dan pendidikan agama secara intensif.
Sumber : Amat Asah Parang
Editor/redaksi : Ipul pedank laut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar