Elitnesia.id|Banda Aceh,— Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Banteng Muda Indonesia (BMI) di Aceh tidak sekadar seremoni. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) BMI Aceh menjadikannya sebagai momentum aksi politik kerakyatan dengan turun langsung menyapa dan membantu masyarakat, khususnya driver ojek online dan anak-anak panti asuhan, Sabtu, (29 Maret 2026).
Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor DPD PDI Perjuangan Aceh ini merupakan bagian dari gerakan nasional BMI yang digelar serentak di seluruh Indonesia atas arahan DPP BMI. Dengan mengusung tema :
_“Disanalah Aku Berdiri Menjaga Ibu Pertiwi, Jaga Republik dengan Semangat Gotong Royong”_, BMI menegaskan posisinya sebagai organisasi sayap PDI Perjuangan sektor kepemudaan yang tidak hanya hadir dalam wacana, tetapi juga dalam kerja nyata di tengah rakyat.
Ketua DPD BMI Aceh, Faiza Rahmatullah, menegaskan bahwa peringatan HUT ke-26 ini diarahkan untuk memperkuat kedekatan organisasi dengan masyarakat.
“BMI harus hadir di tengah rakyat. Perayaan ini kami isi dengan aksi nyata—pemotongan tumpeng, makan bersama, dan penyaluran bantuan sembako kepada 26 driver ojek online sebagai simbol usia BMI ke-26,” ujarnya.
Sebanyak 26 driver ojek online dari berbagai platform seperti Gojek, Grab, dan Maxim dilibatkan langsung dalam kegiatan ini, tidak hanya sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai bagian dari dialog sosial dan kebersamaan dalam suasana Idul Fitri.
Namun lebih dari sekadar kegiatan sosial, momentum ini juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi politik rakyat.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Aceh, Gading Hamonangan Hasibuan, dalam sambutannya menegaskan bahwa kelompok pekerja seperti driver ojek online tidak boleh diposisikan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi harus menjadi subjek dalam proses politik.
“Politik menentukan banyak hal dalam kehidupan kita—harga BBM, harga sembako, hingga tarif ojek online. Karena itu, para driver ojek harus menjadi pelaku politik, bukan hanya penonton,” tegasnya.
Ia juga menyinggung bagaimana PDI Perjuangan secara konsisten memperjuangkan isu-isu strategis rakyat melalui jalur politik, termasuk dalam forum resmi negara. Salah satunya adalah dorongan agar persoalan ojek online mendapatkan perhatian serius melalui rapat dengar pendapat di DPR RI, sebagaimana pernah disuarakan oleh tokoh PDI Perjuangan di tingkat pusat.
Lebih jauh, Gading menegaskan bahwa komitmen ideologis PDI Perjuangan tidak hanya berhenti pada isu domestik, tetapi juga pada perjuangan global melawan penjajahan, sebagaimana warisan pemikiran Ir. Soekarno.
Ia mengutip pernyataan Bung Karno pada Asian Games 1962 :
_“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”_
“Nilai-nilai ini menjadi dasar sikap politik PDI Perjuangan hingga hari ini—berpihak pada keadilan dan melawan segala bentuk penindasan,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa DPD PDI Perjuangan Aceh membuka diri sebagai rumah aspirasi rakyat, termasuk bagi para driver ojek online yang ingin memperjuangkan hak-haknya melalui jalur politik.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aksi sosial berupa penyaluran bantuan paket sembako dan buku tulis "Anak Hebat untuk Indonesia Raya" dari Ibu Prof. Dr. (H.C.) Hj. Megawati Soekarnoputri kepada anak-anak di Yayasan Penyantun Islam Aceh, sebagai bagian dari komitmen BMI dalam membangun solidaritas sosial dan kepedulian terhadap generasi muda.
Momentum HUT ke-26 BMI ini sekaligus menjadi penegasan arah gerakan organisasi ke depan :
bahwa politik tidak boleh berjarak dari rakyat, dan kerja-kerja politik harus diterjemahkan dalam aksi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
BMI Aceh menegaskan bahwa politik kerakyatan-nya bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang hadir di tengah masyarakat—menyapa, menangis dan tertawa bersama rakyat, serta berdiri tegak memperjuangkan kepentingan mereka.
Redaksi : Ipul pedank laut




Tidak ada komentar:
Posting Komentar