Elitnesia.id|Bireuen, — Ketegangan terkait aktivitas tiga perusahaan di kawasan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, mulai meluas. Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Wilayah Batee Iliek Kabupaten Bireuen memperingatkan pemerintah agar tidak terus mengabaikan suara rakyat yang menolak aktivitas perusahaan di wilayah yang dianggap sebagai tanah perjuangan dan kawasan penyangga lingkungan Aceh.
Wakil Ketua JASA Wilayah Batee Iliek Kabupaten Bireuen, M Amin, menegaskan masyarakat Bireuen saat ini masih bergelut dengan dampak banjir yang belum tertangani secara maksimal. Namun di saat rakyat masih kesulitan, pemerintah justru dinilai memberi ruang terhadap aktivitas perusahaan di kawasan hulu yang berpotensi memperparah kerusakan lingkungan.
“Rakyat belum selesai menangis karena banjir. Rumah warga masih rusak, satupun jembatan belum siap, sawah tidak bisa digarap, ternak mati, sekolah dayah masih terdampak. Tapi pemerintah malah sibuk membuka jalan bagi perusahaan. Ini melukai rasa keadilan masyarakat,” kata M Amin, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap keseriusan pemerintah dalam melindungi rakyat kecil. Ia menilai pemerintah terlalu lemah di hadapan kepentingan korporasi, tetapi lamban ketika rakyat meminta perlindungan atas lingkungan dan hak hidup mereka.
M Amin menyebut kerusakan kawasan hulu seperti Beutong Ateuh akan menjadi ancaman nyata bagi masyarakat di wilayah hilir Aceh, termasuk Kabupaten Bireuen yang selama ini berulang kali diterjang banjir.
“Kalau hutan terus dibuka dan kawasan penyangga alam dihancurkan, jangan heran kalau banjir terus datang menghancurkan kampung-kampung rakyat. Yang jadi korban bukan pejabat, tapi masyarakat kecil,” ujarnya.
JASA Wilayah Batee Iliek juga menegaskan bahwa Beutong Ateuh bukan tanah kosong yang bisa diperlakukan sesuka hati. Kawasan itu disebut memiliki nilai sejarah perjuangan dan menjadi bagian dari marwah rakyat Aceh yang harus dijaga.
Karena itu, pihaknya meminta Pemerintah Aceh segera menghentikan seluruh aktivitas perusahaan dan mengevaluasi seluruh izin yang telah dikeluarkan.
Dalam pernyataannya, M Amin juga melontarkan peringatan terbuka kepada pemerintah. Ia mengatakan masyarakat Bireuen siap bergerak langsung ke Beutong Ateuh apabila tuntutan rakyat terus diabaikan.
“Jangan tunggu kemarahan rakyat meledak. Kalau pemerintah tetap tuli terhadap suara masyarakat, maka massa dari Bireuen akan bergerak ke Beutong. Ini bukan ancaman kosong. Rakyat sudah terlalu lama menahan penderitaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, gerakan solidaritas rakyat bisa meluas apabila pemerintah terus dianggap berpihak kepada kepentingan perusahaan dibanding keselamatan masyarakat dan lingkungan Aceh.
“Kalau pemerintah tidak mampu menjaga tanah rakyat, maka rakyat sendiri yang akan turun menjaganya,” pungkas M Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar