• Jelajahi

    Aplikasi (1) Artis (3) Covid 19 (1) Daerah (572) Hukum (96) Internasional (191) Kampus (58) Lifestyle (16) Nasional (361) Politik (91)
    Copyright © elitnesia.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    21 Tahun MoU Helsinki, Gandapura Ajak Semua Pihak Kawal Perdamaian, UUPA dan Otonomi Aceh

    14 Agustus 2026, 11:33 WIB Last Updated 2026-08-14T06:07:46Z


    Elitnesia.id|Bireuen ,– Peringatan 21 tahun Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki di Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, berlangsung khidmat dan penuh nuansa kebersamaan. Momentum peringatan perdamaian Aceh tersebut menjadi ajang refleksi sekaligus seruan untuk terus menjaga perdamaian dan memperkuat pembangunan di Aceh.


    Kegiatan yang digelar di Balai Kecamatan Gandapura, Jumat (14/8/2026), diikuti unsur pemerintahan kecamatan, TNI-Polri, para keuchik, tokoh agama, mukim, tokoh masyarakat serta sejumlah unsur pelayanan publik di Kecamatan Gandapura.


    Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan sambutan Camat Gandapura, Birul Walidin, S.STP., M.Ec.Dev., tausiah, zikir dan takbir serta doa bersama.


    Dalam sambutannya, Camat Gandapura Birul Walidin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan 21 tahun MoU Helsinki sebagai momentum memperkuat persatuan dan menjaga perdamaian Aceh.


    “Mari kita merawat damai MoU Helsinki yang ke-21. Mari kita kembali bergandengan tangan membangun negeri, mengawal perdamaian, mengawal UUPA dan mengawal otonomi Aceh agar terus dilanjutkan oleh pemerintah,” ujarnya.


    Menurutnya, perdamaian yang telah berlangsung selama 21 tahun merupakan modal penting bagi masyarakat Aceh untuk melanjutkan pembangunan. Karena itu, perdamaian tidak cukup hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi harus dirawat melalui kebersamaan, komunikasi dan semangat membangun daerah.


    Zikir dan Takbir, Doa untuk Keberlanjutan Perdamaian


    Suasana peringatan semakin khidmat ketika masyarakat mengikuti zikir dan takbir yang dipandu Tgk. Ukhiya, Ketua Satuan Pendidikan Muadhalah (SPM) Wustha Dayah Darussaadah Cot Puuk, Kecamatan Gandapura.


    Zikir dan takbir menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut sebagai ungkapan syukur atas terpeliharanya perdamaian Aceh sekaligus doa agar masyarakat terus diberikan keamanan, keberkahan dan persatuan.


    Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan Tengku Irwansyah. Pesan keagamaan yang disampaikan diarahkan pada pentingnya menjaga persaudaraan, kedamaian dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis.


    Sementara itu, doa dipimpin Waled Burhan, Imum Syik Masjid Taqwa Kecamatan Gandapura. Para peserta mengikuti doa bersama dengan penuh kekhusyukan.


    TNI-Polri, Pemerintah Gampong dan Tokoh Masyarakat Bersatu


    Peringatan 21 tahun MoU Helsinki tersebut turut dihadiri Camat Gandapura Birul Walidin, Danramil 08/Gandapura Kapten Inf. Nurdin Junet, Kapolsek Gandapura Iptu. Jusman, S.Sos., Kepala KUA Gandapura, para mukim dan keuchik se-Kecamatan Gandapura.


    Hadir pula Sekretaris Puskesmas Gandapura Muntasir, SKM., Kepala Puskesmas Mon Keulayu Ners Hamidi, para pemimpin gampong serta tokoh masyarakat Kecamatan Gandapura, mahasiswa KKN kecamatan Gandapura dari UIN Sunan kali jaga Yogyakarta


    Kehadiran lintas unsur tersebut menjadi gambaran bahwa menjaga perdamaian bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.


    Ditutup dengan Potong Tumpeng dan Simbol Kebersamaan


    Nuansa kebersamaan semakin terlihat pada penghujung kegiatan. Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan 21 tahun perdamaian Aceh.


    Momen tersebut juga diwarnai aksi saling menyuapi tumpeng antara keuchik dengan unsur Koramil serta Camat dengan unsur Polsek. Tradisi sederhana itu menjadi simbol kedekatan dan kebersamaan antara pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat.


    Peringatan MoU Helsinki di Gandapura tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian yang telah diraih melalui perjalanan panjang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


    “Damai bukan sekadar sejarah. Damai adalah tanggung jawab bersama yang harus dirawat, dikawal dan diisi dengan pembangunan demi masa depan Aceh.”


    Reporter : Muhammad Idris ( Amat Asah Parang)

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini