• Jelajahi

    Aplikasi (1) Artis (3) Covid 19 (1) Daerah (555) Hukum (88) Internasional (191) Kampus (58) Lifestyle (16) Nasional (353) Politik (74)
    Copyright © elitnesia.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Di Balik Netralitas Ilmu: Aksiologi dan Etika dalam Peran Ilmuwan

    16 Januari 2026, 13:43 WIB Last Updated 2026-01-16T06:43:53Z

     

    Penulis : Lilis Diatna Mahasiswa Pascasarjana HKI UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe

    Opini,- Materi tentang aksiologi dan etika ilmuwan menegaskan satu hal mendasar dalam filsafat ilmu: ilmu pengetahuan tidak pernah sepenuhnya netral nilai. 

     

     

    Ilmu bukan sekadar akumulasi fakta objektif atau produk rasionalitas manusia yang bebas kepentingan, melainkan selalu berkelindan dengan tujuan, orientasi, serta tanggung jawab moral penggunanya. 

     

     

    Dalam konteks inilah aksiologi menjadi dimensi krusial dalam filsafat ilmu, karena mengajukan pertanyaan fundamental tentang untuk apa ilmu dikembangkan dan bagi siapa ilmu itu dimanfaatkan.

     

     

    Ruang lingkup aksiologi yang mencakup etika, estetika, dan nilai praktis memperlihatkan bahwa pengembangan ilmu tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan kemanusiaan.

     

     

    Pandangan Heris Hermawan dan Stathis Psillos menegaskan bahwa proses ilmiah selalu melibatkan nilai-nilai epistemik maupun non-epistemik. Artinya, ilmuwan tidak hanya bertanggung jawab atas kebenaran ilmiah, tetapi juga atas dampak sosial dari pengetahuan yang dihasilkannya.

     

     

    Tanpa refleksi aksiologis, ilmu berpotensi disalahgunakan sebagai instrumen kepentingan ekonomi, politik, atau kekuasaan, yang justru dapat merugikan dan menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan.

     

     Perspektif ini semakin kuat ketika dikaitkan dengan tradisi filsafat Islam. Pemikiran Ibn Jamaah dan al-Zarnuji menempatkan ilmu sebagai sarana pembentukan akhlak dan jalan menuju kedekatan kepada Tuhan. 

     

     

    Dalam pandangan ini, ilmu tidak hanya bernilai karena kegunaannya, tetapi juga karena niat dan orientasi moral yang melandasinya. 

     

     

    Ilmu yang dilepaskan dari nilai etis dan spiritual tidak hanya kehilangan makna, tetapi juga berpotensi melahirkan kerusakan. Relevansi pemikiran ini sangat terasa dalam konteks modern, ketika kemajuan ilmu dan teknologi sering kali melaju lebih cepat daripada kesiapan etika penggunanya.

     

     

    Pembahasan mengenai etika ilmuwan, termasuk relasi etis antara guru dan murid, menjadi poin penting dalam membangun budaya keilmuan yang bertanggung jawab.

     

     

    Ilmuwan ideal bukan hanya mereka yang unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, kejujuran, dan kesadaran moral. Pendidikan, dalam hal ini, memegang peranan strategis sebagai fondasi pembentukan etika ilmiah, karena karakter dan sikap ilmuwan dibangun sejak proses pembelajaran berlangsung.

     

     

    Secara keseluruhan, materi ini memberikan pemahaman yang komprehensif bahwa ilmu pengetahuan harus senantiasa diarahkan pada kemaslahatan manusia. 

     

     

    Aksiologi dan etika ilmuwan berfungsi sebagai kompas moral yang menuntun perkembangan ilmu agar tetap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. 

     

     

    Dengan demikian, kemajuan ilmu tidak berhenti pada pencapaian intelektual semata, melainkan berkontribusi nyata bagi peradaban yang adil, bermakna, dan berkeadaban.

     


    Penulis : Lilis Diatna

    Mahasiswa Pascasarjana HKI UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini