![]() |
| Penulis Opini : Ghujdawan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. |
Elitnesia.id| Opini,- Epistemologi lahir dari kegelisahan paling mendasar manusia tentang pengetahuan. Ia bermula dari pertanyaan sederhana namun mengguncang: “Bagaimana aku tahu bahwa aku mengetahui?” Sekilas pertanyaan ini tampak abstrak, tetapi sesungguhnya menjadi fondasi bagi seluruh bangunan ilmu pengetahuan, keyakinan, bahkan cara manusia memaknai hidup. Sejak awal peradaban, manusia terus bergulat dengan pertanyaan tentang apa yang benar, apa yang nyata, dan sejauh mana kebenaran itu dapat diketahui.
Inti epistemologi adalah upaya kritis untuk memahami hakikat pengetahuan: apa itu pengetahuan, bagaimana ia diperoleh, dan apa batas-batasnya. Melalui epistemologi, manusia diajak untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi menata ulang cara berpikir dan cara memandang realitas. Pengetahuan bukan sekadar kumpulan data atau berita, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan kesadaran, pembuktian, serta justifikasi yang rasional.
Dalam kehidupannya, manusia memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber. Indera membantu manusia mengenali dunia fisik, akal mengolah dan memberi makna atas apa yang ditangkap indera, intuisi menangkap pemahaman secara spontan, dan wahyu menyingkap kebenaran dari dimensi metafisis. Keempat sumber ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks—tidak hanya rasional, tetapi juga intuitif dan spiritual.
Sejarah pemikiran memperlihatkan betapa seriusnya perdebatan tentang pengetahuan. Di Yunani Kuno, Plato dan Aristoteles berdebat mengenai mana yang lebih utama: ide atau pengalaman. Seiring perkembangan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan observasi, eksperimen, dan metode ilmiah yang semakin ketat. Dari sini lahir tiga ranah epistemik yang saling terkait.
Pertama, epistemologi sains, yang menjadikan kebenaran sebagai objek utama melalui observasi dan verifikasi. Sains tidak berpijak pada doktrin, melainkan pada bukti. Kebenaran dalam sains bersifat tentatif—benar hari ini, namun bisa direvisi esok hari ketika data baru ditemukan.
Kedua, epistemologi filsafat, yang memandang bahwa data saja tidak cukup. Filsafat menguji asumsi, logika, dan kerangka berpikir manusia, serta mengajukan pertanyaan mendasar yang sering dihindari sains: mengapa sesuatu dianggap benar? dan apa makna kebenaran itu sendiri?
Ketiga, epistemologi mistis, yang menempuh jalan batin. Dalam ranah ini, pengetahuan tidak hanya dirumuskan, tetapi dialami secara langsung. Kebenaran dipahami sebagai perjumpaan eksistensial, bukan semata kesimpulan intelektual.
Meski berbeda jalur, ketiga ranah ini tidak harus saling menegasikan. Justru, mereka dapat berdampingan dan saling melengkapi. Sains menjawab bagaimana dunia bekerja, filsafat menanyakan mengapa dunia bekerja demikian, dan mistisisme memberi makna untuk apa dunia itu ada.
Epistemologi juga mengingatkan bahwa tidak setiap klaim dapat disebut sebagai pengetahuan. Pengetahuan mensyaratkan kriteria tertentu: kesesuaian dengan fakta, konsistensi dalam sistem ide, kegunaan praktis, atau dampak sosial yang dihasilkan. Dari sini terlihat bahwa kebenaran tidak datang dari satu pintu saja, melainkan dari berbagai pendekatan yang saling berkaitan.
Namun di balik seluruh eksplorasi ini, ada kesadaran penting: pengetahuan manusia memiliki batas. Indera bisa keliru, akal terikat oleh bahasa dan konsep, intuisi tidak selalu tepat, bahkan wahyu pun memerlukan interpretasi manusia. Kesadaran akan keterbatasan inilah yang membuat epistemologi menjadi disiplin yang mendorong kerendahan hati intelektual dan sikap berpikir kritis.
Pada akhirnya, epistemologi bukan sekadar cabang filsafat, melainkan kompas peradaban. Tanpa epistemologi, manusia mudah terjerumus ke dalam doktrin, hoaks, dan klaim kosong. Dengan epistemologi, manusia diajak untuk tidak percaya begitu saja, tetapi memahami, menguji, dan bertanggung jawab atas apa yang diyakini.
Di era modern yang dibanjiri informasi dan teknologi, epistemologi menjadi perisai terakhir agar manusia tetap waras dan kritis. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan harus ditelusuri, diverifikasi, dan dipahami—bukan sekadar diterima dan ditelan mentah-mentah.
Penulis Opini : Ghujdawan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar