Elitnesia | Bireuen — Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Peudada, Bukhari, yang juga dikenal sebagai anak panglima GAM, mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh pemangku kepentingan agar tidak memperkeruh situasi dengan isu-isu provokatif di tengah masyarakat yang masih dalam masa pemulihan pascabencana banjir besar di Aceh.
Menurut Bukhari, kondisi pascabencana merupakan fase paling sensitif. Berbagai persoalan masih dihadapi masyarakat, mulai dari kekurangan pangan, kerusakan rumah, hingga masalah sosial lainnya. Karena itu, setiap informasi yang tidak benar atau dibesar-besarkan berpotensi memicu kepanikan dan perpecahan antarwarga.
“Saat masyarakat sedang terpuruk, jangan ada yang menambah beban dengan menyebarkan provokasi. Ini masa pemulihan, bukan masa memperjualbelikan isu,” tegas Bukhari.
Ia menekankan bahwa skala kerusakan akibat bencana tersebut sangat besar. Banyak infrastruktur rusak parah, kebutuhan logistik masih mendesak, dan ribuan keluarga terdampak masih menunggu bantuan serta kepastian perbaikan.
“Ini bencana besar dengan kerusakan yang massif. Tidak ada proses pemulihan yang instan,” ujarnya.
Anggaran Jadi Kendala Utama
Bukhari juga mengingatkan bahwa pemerintah gampong hingga pemerintah kabupaten tidak dapat bekerja maksimal tanpa dukungan anggaran yang memadai. Menurutnya, banyak kebutuhan pemulihan masih menunggu alokasi dana dari pemerintah pusat.
“Sehebat apa pun keuchik dan bupati bekerja, tanpa anggaran yang cukup tetap tidak akan berjalan maksimal. Pemerintah pusat memegang peranan besar dalam pemulihan ini,” katanya.
Ia menyoroti munculnya isu-isu provokatif terkait penyaluran bantuan logistik yang dinilai sangat meresahkan masyarakat. Bukhari menegaskan bahwa distribusi bantuan dilakukan berdasarkan data dan hasil verifikasi di lapangan, bukan dibagi secara sembarangan atau karena tekanan pihak tertentu.
Seruan Tegas untuk Semua Pihak
Di akhir pernyataannya, Bukhari meminta seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh gampong, relawan, dan pihak terkait lainnya, untuk menjaga ucapan serta sikap di tengah masyarakat. Ia menolak keras tindakan yang memancing emosi, memperkeruh suasana, atau memanfaatkan kondisi bencana untuk kepentingan pribadi maupun politik.
“Jangan jadi provokator, jangan jadi penyebar keresahan. Tugas kita adalah membantu korban, bukan menciptakan masalah baru,” tegasnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar